Rabu, 19 Januari 2011

Kompilasi Pantun orang miskin,anak rantau,religi,nasehat,patah hati.

Kompilasi Pantun orang miskin,anak rantau,religi,nasehat,patah hati.


Kompilasi Pantun orang miskin,anak rantau,religi,nasehat,patah hati.

1295478719739232550

PANTUN ORANG MISKIN.

Gemericik bunyi air mengalir,
mengalun indah membentuk nada.
Terusik jiwa rasa terusir,
kala ditengah orang berada.

Meruncing tinggi bukit menoreh,
berkabut basah semak berduri.
Mencari pagi dimakan sore,
baju basahpun kering sendiri.

Bulan sebelas pergi ke Mekkah,
ketika pulang hanya sendiri.
Bukannya malas mencari nafkah,
tapi sudah nasibnya diri.

Buah mengkudu masaknya jatuh.
diambil boleh dibuang jangan.
Bukannya hidup selalu tersentuh,
tapi sudah suratan tangan.

Ramai kenduri habislah sudah,
tinggallah sepi orang berlalu.
Daku kan pergi tinggalkan bunda,
hantarlah doa suci selalu.

Alangkah harum baunya pandan,
dipakai campuran bunga melati.
Ananda pergi membawa badan,
berharap rezeki akan menanti.

Dijual renda setiap pekan,
dipakai untuk menutup peti.
Doa ibunda nanda harapkan,
agar jalanku kan diberkati.

Ke pulau putri belibis putih,
setelah petang pulang ke sarang.
Kalaulah pandai meniti buih,
selamat badan ke seberang.

Ingin kuambil sekarung arang,
untuk dipakai membakar duri,
agar tak tertusuk orang lalu.
Ingin berhasil ditanah orang,
Sanak cari saudara cari,
Induk semang cari dahulu.

Serati berenang di tepi danau,
sepasang bangau diam berdiri.
Sakit senang hidup dirantau,
sedu sedan ditelan sendiri.

Orang ogan pergi ke hilir,
ingat selalu dusun di ulu.
Selama air masih mengalir,
tetaplah tabah sabar selalu.

Gunung meratus di kalimantan,
gunungnya tinggi berimba lebat.
Terputus nyawa sudah suratan,
Berakhir rantau didalam taubat.

Makannya kuda berbahan dedak,
dedak dicampur rumput berduri.
Didalam dada seakan meledak,
didepan tampak kokoh berdiri.

Khatib berdiri ucapkan salam,
salam dijawan oleh jamaah,
Serasa duri serasa sekam,
kala masalah datang melimpah.

Menunggu sejenak anakpun lahir,
karena meminum rumput fatimah.
Semoga hidup kelak berakhir,
dengan panggilan husnul khotimah.

Merpati terbang orangpun usil,
sarangnya hancur terkena galah.
Mereka yang tangguh akan berhasil,
orang yang lemah menjadi kalah.

Berdayung ke pulau ombaknya deras,
mengangkat sauh para kerani.
Walaupun merantau hidupnye keras,
janganlah hilang hati nurani.

Sinar mentari bersinar cerah,
menyambut pagi datang menjelang.
Awali hari semangat membara,
moga dirahmati sampai ke petang.

Awan datang cahya pun redup,
hari yang cerah menjadi mendung,
Seakan membayang akhirnya hidup,
hendaklah berguna hayat dikandung.

Mentari cerah petani senang,
padinya subur indah menguning.
Sadari hidup susah dan senang,
seperti hasil dalam bermain.

Lentera redup padamlah sudah,
malampun gelap dingin semilir.
Jalani hidup sepanjang usia,
bagai ikuti arus mengalir.

Merpati muda terbang gembira,
terbangnya tinggi jauh melayang.
Selagi muda semangat membara,
setelah senja banyak terkenang.

Orang semendo pergi ke ladang,
bertanam padi tanahnya subur,
Jalani hidup tetaplah riang,
buatlah derita jadi terkubur.

Pagi cerah bersinar mentari,
Terbit di timur terus ke barat.
Hidup mulia hari dicari,
untuk bekal dunia akherat.

Orang lontar pergi kelana,
merantau belajar ilmu mengukir.
Orang hidup harus berguna,
sampai kelak nyawa berakhir,

Murai berkicau pagi bermula,
menyambut riang sinar mentari.
Mulailah hidup dengan bismillah,
moga berkah iringi hari.

PANTUN RELIGI
Menjangan kecil bundanya hilang,
dikejar jatuh kedalam perigi.
Mentari redup petang menjelang,
tercatat amal sehari lagi.

Ayam bekisar hidup dihutan,
suaranya nyaring sudahlah jelas.
Sebesar apapun amal perbuatan,
pastilah kelak akan dibalas.

Anak siamang main dirimba,
ditangkap pemburu lalu diikat.
panjatkan doa sambil menghiba,
semoga diterima mintanya taubat.

PANTUN PATAH HATI
Pergi tandang ke lubuk rukam,
ke rumah orang untuk kenduri.
Nasi dimakan serasa sekam,
air diminum serasa duri.

Belilah gelas barang selusin,
kalaulah pecah tidak meminta.
Nasi dimakan terasa asin,
tercampur dengan si air mata.

Sembuh demam muncul keringat,
setelah dingin mandi bidara.
Setiap saat selalu teringat,
hancur didalam tidak terkira.

Terasa kenyal si buah kabung,
dimakan dengan campuran pati.
Patah kayu bis disambung,
patahnya hati tak ada ganti.

Orang palembang membeli beras,
dimasak dengan dandang kuali.
Sakit didalam sangat membekas,
tak mungkin lagi pulih kembali.

Kepala pening bukanlah bodoh,
tapi karena umur sudah tua.
Kalau memang sudah jodoh,
diakherat nanti kita bersua.

Rakit dibuat di teluk permata,
untuk dipakai pencari udang.
Sakitnya siksa karena cinta,
bagai pukulan seribu pedang.

Rakit berjasa dimasa lalu,
dipakai orang menjual madu.
Sakitnya rasa bagai sembilu,
pahitnya bagai rasa empedu.

ambillah ragi dibatang buluh,
ambil setetak diremas-remas.
dia yang pergi biar berlalu,
kelak suasa berganti emas.

Al Faqir
Hamdi Akhsan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar